Senin, 22 April 2019

WORK SHOP SEKOLAH SIAGA KEPENDUDUKAN (SSK) BKKBN PROVINSI JAWA TENGAH 2019


SOSIALISASI PEDOMAN DAN MATERI SEKOLAH SIAGA KEPENDUDUKAN (SSK) BKKBN PROVINSI JAWA TENGAH 2019
Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah menggelar Work Shop dalam rangka Sosialisasi pedoman dan materi Sekolah Siaga Kependudukan di MG Setos Hotel Semarang akhir April 2019. Materi disampaikan oleh nara sumber dari Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah, Biro Pusat Statistik dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Peserta terdiri dari para Kepala Sekolah calon pelaksana program SSK di Kabupaten / Kota dan OPD Kependudukan Keluargta Berencana kabupaten / kota se Jawa Tengah. 
Acara dibuka Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah dilanjutkan penandatanganan Perjanjian Kerjasama (PKS) antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah tentang pelaksanaan SSK di Jawa Tengah. 
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah Wagino mengatakan, model SSK kerjasama BKKBN dengan Dinas Pendidikan ini di Indonesia baru dilaksanakan di Jawa Tengah. Atas inovasi ini sudah ada 15 negara yang berkeinginan studi banding pelaksanaan SSK ke Jawa tengah. 

Saat ini ada 3 beban mengatasi masalah isu kependudukan, yaitu jumlah balita terus meningkat, remaja rentan masalah narkoba nikah dini seks bebas, dan lansia yang perlu ditangani agar menjadi lansia tangguh.

 Upaya mengatasi masalah kependudukanjuga dilakukan melalui program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) yaitu sekolah yang mengintegrasikan pendidikan kependudukan dan keluarga berencana ke dalam beberapa mata pelajaran sebagai pengayaan materi pembelajaran.
Kabid Pendidikan SMA Bambang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Bambang Supriyanto menyampaikan peran Dinas Pendidikan diantaranya membuat rencana yang sistematis untuk mensosialisasikan kepada anak-anak didik tentang kependudukan melalui Pojok Kependudukan di Sekolah.

Di dalam sekolah berbasis SSK itu terdapat Pojok Kependudukan (Population Corner) yang didalamnya terdapat tabel, grafik, piramida penduduk, poster, buku-buku, pamflet, brosur-brosur, film-film program kependudukan, dan lain-lain.
Pojok Kependudukan dapat menjadi sumber belajar peserta didik untuk dapat memahami berbagai masalah dan isu kependudukan. Guru diharapkan mampu mengintegrasikan isu kependudukan tersebut ke dalam pembelajaran sesuai dengan Kurikulum pendidikan yang berlaku.
 SSK didefinisikan sebagai implementasi operasional pengendalian kependudukan dan keluarga berencana dengan program-program pendidikan secara terintegrasi. SSK dikelola oleh penyelenggara pendidikan melalui 

pemberdayaan sekolah serta memberikan kemudahan atau akses terhadap anak didik untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan khusus bidang kependudukan dan keluarga berencana. Di dalam pojok kependudukan selain masalah  pendidikan, juga sektor lainya.
Latar belakang pembentukan SSK ini tidak lepas dari upaya pemerintah dalam mensikapi akan datangnya era Bonus Demografi di Indonesia pada tahun 2020 - 2035. Pada era itu, jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) proporsinya lebih dari 50 persen dibandingkan dengan kelompok usia non produktif (0-14 tahun dan > 65 tahun).
 
Pada era ini harus disiapkan generasi yang berkualitas, agar tenaga kerja yang melimpah pada saat ini mampu membawa berkah bukan malah menjadi bencana. Kualitas kesehatannya yang masih rendah yang ditandai dengan tingginya angka kematian ibu dan bayi, serta banyaknya persoalan yang dihadapi remaja terkait dengan pergaulan bebas, pernikahan dini, penyalahgunaan napza dan sebagainya.
Tujuan program SSK adalah memupuk kesadaran siswa tentang kondisi kependudukan di wilayah tempat tinggal masing-masing siswa, menumbuhkan sikap bertanggung jawab dan perilaku adaptif berkaitan dengan dinamika kependudukan, mengembangkan sikap peduli kependudukan dalam pengambilan keputusan ketika kelak mereka menjadi dewasa dan meningkatkan kualitas peserta didik khususnya pada bidang kependudukan dan siap menghadapi tantangan yang cukup berat dimasa yang akan datang
Guna mencapai tujuan tersebut maka saat ini dikembangkan dan dipupuk 3 hal penting yaiyu : I aware, I Care dan I do
 (1) Saya Sadar (I aware) mengenai perkembangan jumlah penduduk dunia, kebutuhan dan ketersediaan air, pangan dan energi,
(2) Saya Peduli (I care) mengenai isu-isu kependudukan, serta
(3) Saya Melakukan (I do) mulai melakukan langkah-langkah aksi nyata melalui perilaku hidup berwawasan kependudukan.
Pelaksanaan SSK ini dimulai dengan pengintegrasian pendidikan kependudukan dan Keluarga Berencana ke dalam mata pelajaran yang relevan seperti Geografi, Sosiologi, Ekonomi, Biologi, Pendidikan Jasmani dan Olahraga, Kesehatan, serta Bimbingan Konseling.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa didesign sedemikian rupa sehingga dapat mendorong siswa untuk aktif mengobservasi, mencari data, mengolah data, dan menganalisis data kependudukan dengan melaksanakan kunjungan langsung ke lapangan atau ke kantor-kantor yang menyediakan data kependudukan seperti Badan Pusat Statistik (BPS) atau Dinas kependudukan dan Catatan Sipil.

Sekolah juga perlu memberi kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan melakukan proses belajar mengajar bersama tenaga medis (bidan) sehingga permasalahan-permasalahan para siswi yang sering dirasakan sehari-hari dan kelak yang akan mereka hadapi dapat langsung dikonsultasikan dengan tenaga medis yang kompeten.

Kegiatan seperti ini harus dilanjutkan dengan optimalisasi bimbingan konseling bersama guru BK dan tenaga medis agar para siswa dapat berkonsultasi diluar jam pelajaran namun tetap berada di lingkungan sekolah. Dengan penyerapan materi tersebut kelak para siswa setelah dewasa dan berkeluarga mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan.

Program SSK ini selain dilaksanakan dalam ruang kelas di sekolah juga dilaksanakan dengan cara kunjungan para siswa ke posyandu, wawancara dengan ibu hamil dan nifas. Pertanyaan-pertanyaan telah disusun sebelumnya mengarah pada peningkatan pengetahuan ibu hamil dan ibu nifas, namun yang terpenting diharapkan menambah wawasan dan pengetahuan para siswa tentang kehamilan, kelahiran, dan nifas.









































Minggu, 21 April 2019

LOMBA MEWARNAI DI PASAR TANI : "AKU CINTA PAK TANI"




Lomba mewarnai gambar bertema Aku Cinta Pak Tani digelar di Pasar Tani KTNA Kranggan Minggu kemarin. Lomba digagas Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Kranggan dengan tujuan untuk menanamkan rasa kecintaan anak terhadap pak tani yang digambarkannya sebagai pahlawan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dengan memberikan gambaran areal persawahan dengan aneka tanaman dan cangkul pak tani sebagai alat pengolah sawah, anak-anak usia PAUD dan TK diharapkan mulai mendapatkan pencerahan tentang dunia pertanian. Paling tidak anak anak mengenal beberapa hal pokok yaitu sosok petani, sawah, alat untuk mencangkul dan aneka tanaman sebagai sumber nutrisi untuk mencerdaskan otak.
Marjoko ketua Panitia Lomba  Mewarnai menjelaskan, lomba mewarnai bukan sekedar untuk mendatangkan pengunjung tetapi sesuai konsep awal pasar tani sebagai edukasi pertanian, maka dinilai cocok yang diberikan pengenalan pertanian itu diantaranya anak-anak. Melalui lomba mewarnai gambar diharapkan anak-anak memahami dunia pertanian dan kelak dewasa sudah bisa ikut mewarnai kebijakan pertanian ketika mereka menjadi orang pintar.
Lomba diikuti 78 peserta yang datang dari berbagai wilayah kecamatan di Kabupaten Temanggung. Bahkan dari luar kabupaten seperti Pati, Sukoharjo dan Klaten juga mengirimkan perwakilan peserta dari PAUD dan TK. Dewan Yuri dari unsur seni dan unsur pendidikan yang kompeten dibidangnya yaitu seni lukis dan pengetahuan pertanian. Materi penilaian meliputi kerapian dalam mewarnai, pemilihan warna yang tepat untuk objek gambar, kreatifitas seni memadukan warna dan motiv yang ditambahkan serta nilai keindahan gambar.
Melihat tema itu salah seorang ibu yang mengantar anaknya menilai positif langkah pengenalan pertanian melalui gambar. Oktaviana Dwiastuti dari Ngadirejo mengatakan, memberikan perhatian pada pendidikan anak harus dilakukan terus menerus oleh orang. Pada usia dini masih duduk di PAUD dan TK tentu belum terlihat bakat khususnya. Oleh karena itu ia mencoba melihat bakat dan ketrampilan apa yang bisa berkembang pada anaknya. Dengan mengikutsertakan ke lomba mewarnai gambar setidaknya anak mulai dapat diketahui bakatnya dibidang seni.
Dalam kegiatan itu bupati temanggung HM AL Khadziq  dan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Temanggung Denty Eka Widi Pratiwi  serta Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Kranggan Ny. Tri Raharjo meninjau langsung kreasi anak-anak yang tengah mengikuti lomba. Kegiatan ini dinilai sebagai sebuah kegiatan positif untuk mensosialisasikan pertanian sedini mungkin kepada anak-anak.
Selain melalui lomba mewarnai gambar, anak-anak juga dikenalkan produk-produk pertanian yang dipajang di anjungan-anjungan pasar tani Kranggan. Hasil kerajinan berbahan hasil petanian juga di apresiasi oleh Tim Penggerak PKK dengan membeli 100 kranjang mini untuk tempat sajian snack tradisonal. Keranjang mini tempat snack ini tentu akan menjadi alat promosi untuk disampaikan kepada masyarakat dimana saja agar mencintai produk pedesaan atau “home made” yang ramah lingkungan namun memiliki nilai estetika dan mengurangi penggunakan plastik.
Hasil kejuaraan lomba mewarnai langsung diumumkan di panggung kesenian dan para penerima piagam dan uang pembinaan adalah Juara I Ananda Bilqis Ufaira Nurin dengan uang pembinaan 500 ribu rupiah, Juara II Satria Wahyu uang pembinaan 400 ribu rupiah dan Juara III Kevin Ahmada dengan uang pembinaan 300 ribu rupiah.
Penyerahan Hadiah dipandu oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Kranggan dan diserahkan kepada para juara oleh Ketua KTNA Kranggan, Kapolsek Kranggan, Danramil Kranggan, dan Ketua Panitia Gayeng Bareng bersama Pasar Tani Kranggan. ---(Budhy HP)---